Welcome To Hanie’s Blog

•April 20, 2011 • 28 Komentar

Annyeong haseyo…

Selamat datang di blog Hanie.

Para readers diharapkan meninggalkan jejak setelah membaca dalam bentuk apapun (coment/vote/like) terserah. yang penting jangan jadi silent readers ya…

paling tidak kan hargai karya author yang udah capek buat ngetik & mikir jg..

Gamsahamnida…

Please, Don’t Be Silent Readers…

 

NB : buat minta password bisa ke author

fb : Hanie Kelly Smicht

tw : Hanie_kimchio

syaratx :

1. tulis nama kalian yg buat coment

2. judul ma part ffnya

3. BUKAN SIlent reaDERS

jika pesannya belum author balas atau tidak author balas mungkin author sedang sibuk. atau biasanya yang minta password adalah dari SIDERS. jadi author juga males balasnya. so, nama kalian buat coment itu wajib diisi yah…

I Don’t Want To Be Orchid

•Maret 20, 2012 • 12 Komentar

Cerita berikut ini merupakan fiktif belaka, jika ada kesamaan merupakaan factor yang tidak disengaja. FF ini murni milik author. Jangan meng-copas tanpa seijin author ya. Don’t Be Plagiator and Silent Readers!!!

Silent Readers GO AWAY!!!

Author      :    Hanie_kimchio
Title          :    I Don’t Want To Be Orchid
Lenght     :    Ficlet
Genre       :    Romance, Love
Main cast :    Cho Kyuhyun, Kwon Yuri

*****
Daun-daun kekuningan perlahan mulai meninggalkan tangkainya. Angin pun berhembus dengan sejuk membawa aroma musim gugur di tempat yang dilaluinya. Langkah kaki itu pun terlihat dengan santai melewati kelas-kelas yang ada di sepanjang koridor sekolah yang sudah sepi. Sesekali si pemilik memandang ke arah taman yang dihiasi oleh banyak dedaunan kuning yang gugur di tanah. Wajahnya membentuk sebuah senyuman. Musim faforitnya telah datang.
Langkah kakinya terhenti sesaat setelah tatapannya menangkap sebuah kertas yang sepertinya telah dibuang oleh pemilik. Kertas itu sudah lecek. Namun ia malah penasaran dengan isi kertas itu. Perlahan tangannya mengambil kertas itu dari lantai dan membaca isinya.
Aku bukan bunga matahari
Yang diibaratkan sebagai hamba yang setia pada tuannya
Aku hidup dengan kebebasan
Layaknya burung yang terbang bebas
Aku memiliki peta jalan hidupku sendiri
Ia tersenyum membaca tulisan itu. Tentu saja karena ia mengenali tulisan siapa orang yang telah menulis itu. Kemudian ia melanjutkan kembali langkahnya yang sempat terhenti.
*****
Seorang laki-laki berusia 18 tahun melewati lorong-lorong kelas yang tampak masih tenang dan sepi pagi itu. Maklum, masih cukup pagi bagi siswa unuk berada di sekolah. Terdengar sesekali lantunan bait lirik lagu yang terucap dari bibirnya. Dengan nyaman ia mendengarkan alunan musik dari I-podnya sambil berjalan menuju ke kelasnya yang berada di ujung lorong itu. Hhhh… rupanya kenyamanannya sedikit terusik dengan suara seseorang. Ia mengacuhkan namun penasaran. Lalu ia berbalik ke belakang mendapati seorang yang sangat dikenalnya.
“Kyuhyun-oppa!!!” panggil gadis itu. Laki-laki yang bernama Kyuhyun itu hanya menatapnya bingung. Jelas saja ia tak mendengar panggilan dari gadis itu karena ia sedang memakai earphone.
“Aish! Jinca! Pantas saja tak menghiraukanku. Kyuhyun oppa pakai earphone dari tadi. Huh! Menyebalkan!” gerutu gadis itu kesal.
Gadis itu yang biasa dipanggil Yuri terdiam di tempatnya tanpa berniat untuk menghampiri Kyuhyun. Itu membuat Kyuhyun heran dan segera melepas earphone yang ia kenakan. Lalu Kyuhyun menghampiri Yuri yang tak jauh darinya itu
“Waeyo, huh?” tanya Kyuhyun lembut. Yuri membalasnya dengan muka masam.
“Ahnio.”
“Sudah, ayo aku antar kau ke kelasmu. Ne?”
“Aku ‘kan bisa sendiri oppa.”
“Sudahlah.. Ayo.. Mumpung masih sepi.”
Kyuhyun mengantar Yuri ke kelasnya yang berada di lantai 3. Tapi dari tadi Yuri masih diam saja. Padahal biasanya ia tak tahan jika diam seperti saat ini. Kyuhyun akhirnya buka suara terlebih dulu.
“Oh, iya. Tadi appa-mu pesan kalau pulang kau disuruh denganku saja.”
“Waeyo? Tadi appa tidak bilang apa-apa padaku.”
“Tapi sebelum kau sampai appa-mu mengirimiku pesan.”
“Aish! Aku bisa pulang sendiri. Aku sudah 17 tahun.”
“Memang kau sudah 17 tahun. Tapi tingkah lakumu seperti anak umur 9 tahun.”
“Pokoknya aku tidak mau!!! Aku mau pulang sendiri. Arasso?!”
“Yak! Kwon Yuri-yang!”
“Dengar baik-baik ya Kyuhyun-oppa. Aku itu bukan bunga matahari yang diibaratkan sebagai hamba yang setia. Aku hidup dengan kebebasan layaknya burung yang terbang bebas. Aku memiliki peta jalan hidupku sendiri.”
Kyuhyun diam sejenak merasa sangat familiar dengan kata-kata yang diucapkan oleh Yuri. Lalu wajahnya berubah terkejut.
“Yak! Kwon Yuri-yang, itu kata-kata yang ku buat ‘kan?!!”
Yuri sudah mengambil langkah seribu sambil menunjukkan senyum jahilnya pada Kyuhyun yang terlihat agak kesal itu. Yuri tersenyum saat sampai di kelasnya. Ia merasa senang pagi ini. :)
*****
Cho Kyuhyun siswa kelas 3 SMA mengenal baik Kwon Yuri yang lebih muda darinya 1 tahun. Mereka cukup dekat karena kedua orangtua masing-masing bersahabat dengan baik. Sayangnya kedekatan itu hanya mereka perlihatkan saat mereka hanya berdua. Seperti halnya di sekolah. Mereka bersikap seolah tidak saling mengenal, cuek, terkesan saling tak peduli. Wae? Entahlah. Mungkin mereka memang menginginkan itu.
“Kyuhyun-oppa, apa oppa pernah memberikan bunga untuk seseorang?” tanya Yuri.
Mereka sedang berada di taman dekat rumah Yuri. Kebetulan orangtua Yuri sedang pergi dan Kyuhyun dipercaya untuk menemani Yuri yang sedang sendiri di rumah.
“Tidak pernah. Ya, selain eomma. Aku pernah memberikan bunga pada eomma saat eomma ulang tahun.” jawab Kyuhyun.
“Selain Cho-ahjumma? Apa ada lagi?”
“Tidak ada.”
“Huft. Apa oppa tidak pernah pacaran? Biasanya kan kalau pacaran pasti ngasih bunga.”
“Itu kan orang lain. Tapi waktu dulu aku pacaran tidak.”
“Memang oppa pernah pacaran?”
“Yak! Kau kira aku gay apa tidak pernah pacaran?”
“Mungkin saja.”
“Aish! Neo michyeoseo.”
“Oppa, type yeoja impianmu itu seperti apa?”
“Seperti bunga anggrek.”
“Anggrek? Wae?”
“Karena anggrek berpenampilan eksotis, melambangkan kecantikan yang halus dan langka. Itu memberi kesan yang unik dan lama dalam ingatan dan mengatakan bahwa anggrek adalah pilihan utama. Penampilannya tidak dapat ditandingi.”
“Hhh.. Aku jadi ingin seperti bunga anggrek. Berpenampilan eksotis, unik, dan berkesan.”
Kyuhyun menatap Yuri sambil tersenyum. Namun perlahan ia menyadari sesuatu dari perkataan Yuri. Sadar atau tidak, Yuri telah mengungkapkan sesuatu dalam hatinya lewat rangkaian kata yang ia ucapkan. Perasaannya pada Kyuhyun yang sebenarnya lebih dari seorang dongsaeng pada oppanya. Lebih tepat seperti perasaan yeoja pada seorang namja.
“Yuri-ya… Sebenarnya kau tak perlu menjadi seperti bunga anggrek.”
Yuri memandang Kyuhyun penuh tanya. Kyuhyun tersenyum lembut pada Yuri dan merangkul gadis itu dengan hangat.
“Kau adalah seorang Kwon Yuri. Kau tak perlu apa pun atau sesuatu yang lain. Kau cukup menjadi dirimu sendiri dan apa adanya dirimu saat ini…”
Yuri menunduk mendengar perkataan Kyuhyun.
“Lebih dari apa pun. Aku lebih menyukai yeoja yang apa adanya. Ia tak harus berpenampilan eksotis jika penampilan hanya menunjukkan fisik saja. Dan ia tak perlu menjadi unik untuk menunjukkan bahwa ia berbeda. Aku menyukai yeoja yang menjadi dirinya sendiri. Sama sepertimu, Yuri-ya.”
Yuri memandang Kyuhyun. Bibirnya membentuk sebuah senyuman yang manis. Bahkan dapat membuat orang juga turut tersenyum karenanya. Kyuhyun mendekatkan wajahnya pada wajah Yuri kemudian sempat membisikkan sesuatu sebelum bibirnya menyentuh bibir Yuri dan menciumnya dengan lembut.
“Saranghaeyo, Kwon Yuri.”
Ya. Aku tak perlu menjadi apapun untuk membuatmu menyukaiku, Kyuhyun-oppa. Karena tanpa perlu menjadi apapun, aku sudah menempati ruang yang ada di hatimu oppa. Hhh… Aku tak ingin lagi menjadi anggrek. Aku hanya ingin menjadi diriku sendiri. Menjadi seorang Kwon Yuri yang mencintai Cho Kyuhyun apa adanya.” ucap Yuri dalam hati.

===THE END===

Annyeonghaseyo…
Huaaa… author lagi iseng-iseng nih bikin ff ini.
Mianhae kalau nggak srek atau jelek…
Keep RCL ya!!!
Gamsahamnida… annyeong…

The Letters From Her part 1

•Maret 16, 2012 • 8 Komentar

Cerita berikut ini merupakan fiktif belaka, jika ada kesamaan merupakaan factor yang tidak disengaja. FF ini murni milik author. Jangan meng-copas tanpa seijin author ya. Don’t Be Plagiator and Silent Readers!!!
Silent Readers GO AWAY!!!


Author    :    Hanie_kimchio
Title        :    The Letters From Her
Lenght    :    Fanfiction sequel
Genre        :    Romance, friendship, sad, love
Main cast    :    Choi Siwon, Kwon Yuri
Other Cast    :    Hwang Tiffany, Lee Donghae, Kim Kibum, Im Yoona
Nb        :    Fanfic ini berupa flashback 8 years ago
****
Ruangan itu tampak lusuh. Tak mengherankan, sudah 8 tahun ruangan itu tak terjamah oleh manusia. Perabotan di ruangan atau lebih tepatnya kamar itu pun ditutupi dengan kain putih. Namun, satu yang sangat menarik perhatian. Sebuah buku yang terlihat usang bersampul warna coklat bertengger di meja yang ada di kamar itu.
****

Tap… tap… tap…
Suara langkah seseorang terdengar di telinga pemuda itu. Merasa bahwa suara dari langkah itu menarik perhatiannya, lantas pemuda itu pun membalikkan badannya untuk melihat siapa yang telah menapakkan langkah-langkah yang ia dengar. Seorang siswi yang berkacamata dengan beberapa buku tebal yang entah apa itu di dekapannya. Mengetahui bahwa pemuda itu sedang memperhatikannya, siswi itu pun menunduk dan mempercepat langkahnya. Sedangkan pemuda itu hanya tersenyum memandang siswi yang akhirnya berjalan melewatinya itu. Ia pun melanjutkan jalannya yang sempat terhenti ke kelasnya sambil memasukkan kertas yang baru saja dibacanya ke saku.
*****
Kriiiingg…
Suara bel pulang sekolah berbunyi membuat para siswa di SMA ini pun berhamburan keluar kelas untuk pulang. Pemuda itu sedang berdiri di depan kelasnya ketika merasa ada seseorang yang memperhatikannya. Namun ia pandangi sekelilingnya, yakin, bahwa semua orang sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing.
“Siwon!!!” panggil salah seorang pemuda lain padanya. Ia hanya tersenyum simpul.
“Kenapa?” tanya temannya itu.
“Donghae-ah, sepertinya ada yang memperhatikanku dari tadi. Tapi aku tak melihat siapa orang itu. Apa mungkin hantu?”
“Ahahaha.. kau itu ada-ada saja. Apa kau tidak sadar? Kau itu termasuk siswa yang populer di sekolah ini. Tak heran ‘kan kalau ada yang memperhatikanmu.” Pemuda yang tadi dipanggil Siwon ini pun hanya tersenyum dan menggaruk kepalanya yang tak gatal itu. Memang benar, ia termasuk siswa populer. Bukan karena ia kaya, karena ia hanya berasal dari keluarga yang sederhana. Namun karena ia adalah salah satu siswa yang cukup berprestasi di sekolahya juga karena ia tampan tentu saja, Siwon bisa menjadi siswa yang populer.
“Ya sudahlah. Ayo kita pulang..” ajak Siwon pada Donghae yang dijawab dengan anggukan.
-_-_-
Sudah menjadi kegiatan wajib Siwon sehari-hari jika sepulang sekolah ia akan membantu orangtuanya di kedai mereka. Namun nampaknya hari ini ia akan sedikit terlambat karena sedari tadi ia belum juga beranjak dari tempat duduknya. Ia duduk diam sambil mengamati sebuah ‘surat’ singkat dari entah siapa yang berada di tangannya. Mungkin fans lagi, pikir Siwon. Namun ia heran kenapa nama pengirimnya hanya tertulis ‘P’. Pikirannya bertanya-tanya siapa. Teman yang dikenalnya tak ada yang berinisial ‘P’.
Tok.. tok.. tok..
Siwon menoleh ke arah pintu kamarnya. Dilihat bahwa di sana ada Choi Kibum, adik laki-lakinya. Ia tersenyum.
“Hyung, koq belum ke kedai? Aku sudah menunggu dari tadi.” Kata Kibum.
“Ya, ini hyung mau ke sana.” Balas Siwon.
“Oh… Aku duluan ya hyung. Jangan lama-lama…” ucap Kibum setelah itu dia kembali ke kedai. Siwon kembali menatap surat itu. Ia tersenyum sesaat sebelum menyimpan surat itu di buku pribadinya yang ia letakkan di laci meja belajarnya.
*****
Hari ini hari minggu. Siwon dan Kibum libur sekolah tentu saja. Mereka bertugas untuk membeli bahan-bahan yang dibutuhkan di kedai nanti. Pagi-pagi kakak-adik itu sudah bangun dan pergi ke pasar. Selesai belanja mereka pun pulang, namun ternyata Siwon lupa membeli satu bahan yang akhirnya membuatnya mau tak mau harus kembali ke pasar untuk membelinya. Kibum ia suruh untuk pulang duluan.
“Ah… akhirnya. Kenapa aku bisa lupa membeli ini ya tadi?” gumam Siwon setelah ia membeli apa yang ia butuhkan untuk nanti.
Sambil sedikit bersenandung, Siwon menyusuri jalan menuju ke rumahnya. Baru setengah jalan ia melihat seorang gadis yang duduk di samping trotoar dengan sepeda di sampingnya. “Sepertinya ia terjatuh. Mungkin ia butuh pertolongan.” Pikir Siwon yang akhirnya menghampiri gadis itu.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Siwon. Gadis memandang Siwon dengan tatapan terkejutnya. Mungkin karena ia tidak menyadari kebaradaan Siwon tadi. Sedangkan Siwon hanya tersenyum.
“Kau bisa berdiri?” tanya Siwon yang dijawab oleh gelengan kepala gadis itu. Tangan gadis itu memegang lututnya, atau mungkin lebih tepatnya menutupi lututnya. Siwon tahu bahwa gadis itu terluka di bagian lututnya. Ia berinisiatif untuk membawa gadis itu ke rumahnya.
“Lebih baik aku membawamu ke rumahku dulu untuk mengobati lukamu. Setelah itu nanti kau ku antar pulang ke rumahmu ya.” Ucap Siwon. Gadis itu lagi-lagi menggeleng.
“Tidak, terimakasih. Sepertinya kau sedang sibuk. Kau bisa pulang lebih dulu. Aku baik-baik saja.” Tolak gadis itu. Siwon berpikir, lalu akhirnya ia pun menuruti kata gadis itu.
“Hmm.. Baiklah. Lain kali lebih berhati-hatilah.” Saran Siwon.
“Iya. Terimakasih.”
Siwon baru saja berjarak beberapa langkah dari gadis itu. Namun ia kembali berbalik dan mendekati gadis itu.
“Kenalkan aku Choi Siwon. Siwon.” Kata Siwon tiba-tiba yang membuat gadis itu sedikit bingung. “Aku tidak mau menjadi orang asing untukmu.” Tambah Siwon. Gadis itu tersenyum.
“Aku Hwang Tiffany. Kau bisa memanggilku Fany.”
“Salam kenal Fany.”’
“Salam kenal juga.”
Perkenalan singkat itu akhirnya mengubah rencana mereka tadi. Siwon pun mengajak Tiffany ke rumahnya dulu. Mereka berboncengan naik sepedanya Fanny.
-_-_-
Terdengar suara ringtone yang mengalun di kamar itu. Membuat sang pemilik handphone itu pun segera melihat siapa yang telah menghubunginya. Atau mungkin lebih tepatnya adalah mengetahui siapa yang telah mengusik ketenangannya.
“Hallo”
“…”
“Bagaimana bisa? Lalu sekarang kau di mana?”
“…”
“Baiklah. Kau pulang naik taksi saja. Biar aku yang ambil sepedamu di rumah itu.”
“…”
“Tidak ada yang mengantarku ke sana.”
“…”
“Ya, tunggu aku di sana kalau begitu.”
“…”
Klik!
Sambungan telepon singkat itu pun terputus. Gadis itu menghela nafas panjang. Hari minggu yang ia rencanakan untuk mengerjakan tugas pun harus tertunda karena saudaranya, lebih tepatnya saudara angkatnya, memintanya untuk menjemput.
“Hah… waktuku akan terbuang satu jam lebih.” Gumamnya sambil memakai kacamatanya.
-_-_-
Siwon sudah selesai mengobati Tiffany di rumahnya. Saat itu saudara Fany yaitu Yuri baru sampai di tempat mereka (rumah Siwon). Yuri yang bingung terpaksa hanya menunggu di luar rumah dan mengirimi Tiffany agar segera menemuinya. Saat sedang menunggu, tiba-tiba ada yang menghampirinya.
“Permisi. Aku Kibum. Maaf, anda mencari siapa ya Nona?” tanya pemuda itu yang sedikit membuatnya terkejut karena ia datang tiba-tiba. Yuri tersenyum.
“Hallo, aku Yuri. Maaf, aku ke sini karena ingin menjemput…”
“Yuri!!!”
Perkataan Yuri terpaksa tak terselesaikan karena namanya diteriakkan oleh saudara angkatnya yang baru keluar rumah. Yuri melihat saudaranya itu sedang bersama Siwon.
“Kau itu lama sekali.” Gerutu Tiffany pada Yuri. Yuri hanya tersenyum kecut tak menanggapinya. Pandangannya mengarah pada Siwon yang sedang memandang mereka berdua.
“Ini temanmu yang kau ceritakan itu, Tiff?” tanya Siwon. Kelihatannya Siwon dan Tiffany sudah terlihat akrab meski kurang dari 2 jam mereka bertemu. Tiffany mengangguk.
“Ya. Ini Kwon Yuri temanku. Yuri, kenalkan ini Choi Siwon. Dia yang tadi menolongku.” Kata Tiffany. Yuri memandang Tiffany sekilas. Ia tak heran jika Tiffany tak mau banyak yang tahu bahwa mereka saudara angkat. Makanya marga yang dipakai Yuri tetap sama seperti keluarga kandungnya yaitu ‘Kwon’ bukan ‘Hwang’.
“Aku Kwon Yuri. Salam kenal.” Kata Yuri.
“Aku Choi Siwon. Salam kenal juga.” Balas Siwon.
“Ehem! Kalau begitu aku duluan ya hyung. Sepertinya Nona ini sudah bertemu dengan orang yang ia cari.” Kata Kibum lalu pergi dari hadapan 3 orang itu. Yuri memandang perginya Kibum dengan tatapan aneh.
“Itu siapa?” tanya Tiffany.
“Ia adikku. Choi Kibum.” Jawab Siwon.
Setelah berbincang sejenak akhirnya 2 saudara itu (read : Yuri & Tiffany) memutuskan untuk pulang. Seperti rencana awal. Karena tiffany tak mungkin pulang naik sepeda dengan Yuri, maka ia pulang sendirian naik taksi. Bagaimana dengan Yuri? Ia pulang naik sepeda Tiffany.
“Permisi…” kata Siwon yang membuat Yuri tak jadi mengayuh sepedanya.
“Ya?”
“Apa kau juga siswa Hyonseon?” tanya Siwon.
“Emm… Ya.” Singkat Yuri.
“Pantas saja sepertinya aku pernah melihatmu di sekolah.” Kata Siwon sambil tersenyum. Sepertinya ia orang yang murah senyum.
“Oh… Aku pulang dulu sunbae. Permisi.” Pamit Yuri namun lagi-lagi dihentikan oleh Siwon.
“Yuri!”
“Apa lagi?”
“Hm.. tidak jadi. Hati-hati di jalan…”
Yuri menggelengkan kepalanya sedikit heran. Tapi masa bodoh, pikir gadis itu.
*****

Lagi-lagi untuk ke sekian kalinya, Siwon mendapatkan surat. Surat dari ‘P’. Sejak minggu lalu ia mulai menyimpan surat yang dikirimkan oleh ‘P’ untuknya. Tanpa berniat untuk membalasnya. Dan ini adalah surat kedua yang ia simpan. Entah magnet apa yang membuatnya sekarang menyukai kata-kata dari surat misterius itu.
“Aku memang tak tahu petunjuk apa-apa mengenai siapa pengirim surat itu. Hanya saja semakin lama surat-surat yang ia kirimkan membuat hatiku terpikat oleh kata-katanya yang sederhana yang singkat namun memiliki arti sendiri bagiku. Siapa orang ini? Apa dia fans-ku? Atau? Orang yang memang benar-benar menyukaiku. Ah, aku sungguh tak tahu.” Siwon membatin apa yang ia rasakan setelah membaca surat itu.
Siwon mengambil bukunya dari loker dan berjalan menuju ke taman. Lorong-lorong sekolah nampak mulai ramai karena jam istirahat baru saja berbunyi. Sedangkan kelas Siwon sudah istirahat sejak 5 menit yang lalu. Siwon duduk di salah satu bangku yang ada di taman belakang sekolah. Ia mulai membaca buku yang ia bawa tadi. Angin yang sejuk berhembus di sekitarnya. Memang, taman ini begitu asri dan sejuk. Namun jarang ada siswa yang menghabiskan jam istirahat di tempat ini. Makanya begitu sepi dan Siwon suka itu. Ia jadi lebih bisa konsentrasi pada buku yang dibacanya.
Dalam diam. Dalam suasana yang tenang. Ada yang memperhatikan Siwon dari jauh. Memandangnya sambil tersenyum. Hanya memandang tanpa berani untuk mendekat ataupun menyapa. Namun senyuman itu lenyap ketika ada seorang gadis yang menghampiri Siwon. Ia pun segera berbalik menjauhi taman, tak ingin melihat Siwon dengan gadis itu.
“Siwon oppa!” panggil Fany. Siwon menoleh dan melihat Tiffany menghampirinya. Siwon menutup bukunya.
“Kau sedang apa oppa?” tanya Fany setelah duduk di sebelah Siwon.
“Sedang membaca buku saja.” Jawab Siwon.
“Aku mengganggumu ya?”
“Tidak koq. Oh, iya. Kau sendirian?”
“Iya. Memang kenapa?”
“Tidak dengan temanmu yang kemarin itu?”
“Siapa? Yuri maksud oppa?” Siwon mengangguk. “Dia mungkin ada di perpustakaan sekarang.”
Siwon lagi-lagi hanya mengangguk. Tanpa merasa curiga bahwa ada yang disembunyikan oleh Tiffany.
*****
“Menyebalkan! Menyebalkan!” gerutu Yuri di sepanjang jalan pulang. Ia merasa kesal dengan Tiffany. Sepulang sekolah tadi, Fany meninggalkannya. Jadi terpaksa ia harus pulang sekolah jalan kaki. Padahal jarak dari sekolah ke rumahnya cukup lumayan jauh.
“Aku lelah.” Gumam Yuri. Ia duduk di trotoar tepi jalan. Kadang ada orang yang memandang Yuri aneh. Tapi Yuri tak peduli. Yang jelas ia lelah dan ingin istirahat sejenak. Yuri mendongak ketika ada yang menyodorinya sebotol air mineral. Ia diam. Matanya membulat tanda ia terkejut.
“Kau haus bukan?” tanya Siwon sambil tetap menyerahkan air mineral ke Yuri. Yuri tersenyum dan menerima.
“Terima kasih.” Balas Yuri.
Siwon ikut duduk di sebelah Yuri.  Ia tersenyum memandang Yuri yang sedang minum. Wajah Yuri terlihat lelah dan dihiasi oleh peluh di dahinya. Tapi ia tetap terlihat cantik. “ia terlihat lebih cantik jika dilihat dari dekat.” Batin Siwon berbicara. “Aish! Berpikir apa aku ini! Ada-ada saja!” Siwon segera menepis pikirannya tentang Yuri.
“Kenapa sunbae melihatku seperti itu? Apa wajahku ada yang aneh?” tanya Yuri sambil memegang pipi kirinya. Siwon terkikik pelan melihatnya.
“Wajahmu tak ada yang aneh Yuri. Kau tenang saja.” Jawab Siwon.
“Tidak aneh. Tapi kenapa tadi memandangku begitu?” gumam Yuri pelan. Siwon yang masih bisa mendengarnya hanya tersenyum.
“Kau tidak pulang? Ini sudah sore loh.”
Yuri tersenyum miris.
“Ya, sunbae. Tapi aku masih lelah. Nanti saja aku lanjutkan jalanku.”
“Kenapa tidak naik bus saja?”
“Owh.. dompetku tadi tertinggal. Jadi aku tidak ada uang.”
Yuri menunduk malu. Tiba-tiba Siwon meraih tangannya. Yuri memandang Siwon bingung.
“Ayo! Aku antar kau ke rumahmu. Kita naik bus.”
“Ne?”
“Sudahlah, ayo…”
Siwon dan Yuri duduk bersebelahan. Mungkin karena lelah atau apa, Yuri tertidur. Siwon yang melihat posisi tidur Yuri tidak nyaman memindahkan kepala Yuri ke bahunya. Siwon diam dan berpikir. Sebelumnya ia tak pernah seperti ini pada wanita. Bahkan mungkin tidak mau. Tapi pada Yuri? Entahlah. Ia merasa nyaman. Padahal mungkin baru 2 kali ia bertemu dengan Yuri. Mungkin, karena sepertinya wajah Yuri begitu familiar baginya.
-_-_-
“Sampai di sini saja sunbae. Rumahku sudah dekat.” Kata Yuri begitu mereka turun dari bus.
“Benar tak apa?” tanya Siwon.
“Ne. Nanti sunbae kemalaman kalau mengantarku sampai rumah.” Ujar Yuri. Baru saja Siwon ingin membalas perkataan Yuri tapi sebuah mobil warna hitam berhenti di samping mereka. Jendela mobil itu diturunkan sehingga terlihat orang yang ada di dalamnya.
“Siwon oppa! kenapa bisa di sini?” tanya si pemilik suara, Tiffany. Siwon tersenyum sambil menjawab.
“Aku hanya mengantar Yuri pulang. Dia tadi pulang sendiri.”
“Yuri kan memang biasa pulang sendiri, oppa. kenapa pakai diantar segala?”
“Tak apa. Aku tidak keberatan koq.”
Siwon memandang Yuri yang dari tadi sejak ada Tiffany, dia diam.
“Oppa, bagaimana kalau aku mengantarmu pulang?” tawar Tiffany.
“ah, tidak usah. Terimakasih atas tawarannya.” Tolak Siwon halus.
“Rumah oppa kan jauh dari sini? Lebih baik aku antar.”
“Iya, sunbae. Lebih baik sunbae dengan Fany saja. Biar lebih cepat sampai rumah.” Akhirnya Yuri ikut berbicara juga. Hmm… Siwon berpikir lalu akhirnya ia menerima tawaran Tiffany. Sebelum mobil Tiffany pergi, Yuri sempat mengucapkan pada Siwon yang ditanggapi dengan senyuman khasnya.
****


“Hmm?”
Surat. Ya. Surat lagi. siwon mendapatkan sebuah surat lagi hari ini. Tentu saja itu dari ‘P’. Tapi itu membuat Siwon kembali bertanya pada dirinya sendiri. Pertanyaaan yang mungkin dirinya sendiri sulit untuk mendapatkan jawabannya. “Dia bilang dia bahagia bertemu denganku. Di mana? Kenapa aku tak melihatnya? Siapa dia?” tanya Siwon dalam hati.
Siwon berjalan menuju perpustakaan saat di jalan ia tak sengaja bertemu dengan Yuri.
“Annyeong..” sapanya.
Yuri hanya membalasnya dengan anggukkan sambil tersenyum lalu melanjutkan jalannya. Siwon terus memandang Yuri sampai gadis itu berbelok dan tak terlihat dari jangkauannya. “Ada yang aneh. Tidak. Tidak mungkin.” Gumam Siwon yang entah apa maksudnya itu.

To Be Continued…

akhirnya author bisa nyuri-nyuri waktu buat ngepost part 1nya ini.
mianhae kalo mengecewakan. :(
Keep RCL ya!!!!
annyeong… ^^

The Letters From Her (tokoh)

•Maret 16, 2012 • Tinggalkan sebuah Komentar

Cerita berikut ini merupakan fiktif belaka, jika ada kesamaan merupakaan factor yang tidak disengaja. FF ini murni milik author. Jangan meng-copas tanpa seijin author ya. Don’t Be Plagiator and Silent Readers!!!
Silent Readers GO AWAY!!!

Penulis     :    Hanie_kimchio
Judul        :    The Letters From Her
Tipe           :    Fanfiction sequel
Genre        :    Romance, friendship, sad, love
Tokoh        :
Siwon SuJu as Choi Siwon (Tokoh utama)
Siswa kelas 3 Senior High School Hyonseon. Termasuk siswa yang populer karena kecerdasannya. Ia tampan, baik hati dan juga ramah. Dari keluarga yang sederhana. Keluarganya memiliki sebuah kedai makanan khas Korea yang sederhana, letaknya tak jauh dari rumahnya. Dapat masuk SHS yang elit seperti SHS Hyonseon karena beasiswa. Memiliki seorang adik laki-laki bernama Choi Kibum. (18 tahun)

Yuri SNSD as Kwon/Hwang Yuri (Tokoh utama ke-2)
Siswa berkacamata kelas 1 yang bersekolah di Senior High School Hyonseon. Ia sebenarnya anak yang menyenangkan dan ramah. Namun ia  terlalu pendiam. Di sekolah ia hanya memiliki beberapa teman saja. Kecerdasannya bisa dipertimbangkanlah. Sayang sekali ia sering dibully oleh teman-temannya yang iseng ataupun kakak seniornya yang kurang kerjaan. ia adalah anak angkat dari keluarga Hwang. Meski pun sebenarnya orangtua kandungnya masih hidup dan juga berhubungan baik dengannya. (16 tahun)

Tiffany SNSD as Hwang Tiffany (Tokoh pendukung)
Siswa kelas 1 di Senior High School Hyonseon juga. Cantik dan ramah. Keturunan dari keluarga Hwang yang berasal dari kalangan berada. Ia adalah saudara angkat Yuri. Namun ia lumayan egois dan manja. (16 tahun)

Donghae SuJu as Lee Donghae (Tokoh pendukung)
Sahabat Siwon dari kelas 1 SHS. Berada dalam satu sekolah yang sama namun di kelas yang berbeda. Orangnya asyik dan pengertian. (18 tahun)

Kibum SuJu as Choi Kibum
Adik Siwon yang berada di kelas 1 SHS. Sayang ia berbeda sekolah dengan Siwon. Berwajah cute dan baby face. Sayang terlalu dingin pada wanita selain pada ibunya. (16 tahun)
Im Yoona
Sahabat Yuri satu-satunya. Mengenal Yuri sejak JHS. Satu kelas dengan Yuri. Baik namun agak pemalas. Biar begitu ia suka menulis. (16 tahun)

I Love You All [part 9]

•Februari 3, 2012 • 15 Komentar

Cerita berikut ini merupakan fiktif belaka, jika ada kesamaan merupakaan factor yang tidak disengaja. FF ini murni milik author. Jangan meng-copas tanpa seijin author ya. Don’t Be Plagiator and Silent Readers!!!

Silent Readers GO AWAY!!!

Author           : Hanie_kimchio

Title                : I Love You All

Length            : sequel

Genre             : Love, Romance, Family

Main Cast      : Kwon Yuri, Cho Kyuhyun

Cast                : Choi Siwon, Seohyun, Han Gain, Kim Taehee, Kim Taeyeon

Disclaimer     : Ide, alur, plot FF ini murni milik author! (kecuali Cast-nya^^)

 

Cinta itu bukan milikku. Karena hatinya bukanlah untukku

 -Hanie_kim-

****

(Np : Sabrina – Need You Now)

Aku berjalan masuk ke rumah dengan lunglai. Aku merasa tidak memiliki tenaga sama sekali. Aku langsung masuk ke kamar dan duduk di kursi balkon kamarku menatap matahari yang rupanya mulai menyembunyikan dirinya di ujung barat. Mega terlihat sangat jelas dari sini. Hah… indah. Tapi suasana hatiku sedang tidak mendukung untuk keindahan yang terpampang jelas di hadapanku.

@23.00 KST

Huh… aku dari tadi mondar-mandir di ruang tengah. Tak jarang aku memandangi pintu. Berharap oppa akan segera pulang dan berdiri di pintu itu. Aku cemas menunggu Siwon oppa yang belum pulang. Tanpa kabar. Tanpa memberitahuku. Oppa? oppa di mana sekarang? Jangan membuatku khawatir seperti ini. Aku takut jika terjadi sesuatu. Aku akhirnya duduk di sofa karena lelah. Ya, lelah. Beberapa menit kemudian aku tertidur.

BRAK!

“Yuri!! Buka pintunya!!”

Omo?! Aku langsung bangun mendengar suara. Apa itu oppa? Tapi kenapa harus berteriak? Aku segera membukakan pintu. Dan aku mendapati oppaku dengan keadaan yang… bisa dibilang cukup menyedihkan. Bahkan aku sampai tercengang dan hampir menangis melihatnya. Aku segera memapah Siwon oppa menuju ke kamarnya.

“Kau jahat sekali.. hikk..”

Oppa meracau tak jelas dan sesekali cegukan. Sedangkan aku berusaha untuk tak pingsan mencium bau alkohol yang sangat menyengat darinya. Aku meletakkan oppa dengan hati-hati ke tempat tidurnya dan melepaskan jas yang ia pakai. Uurgh.. bahkan jas-nya juga berbau alkohol. Siwon oppa, ada apa denganmu? Pulang mabuk dengan keadaan yang berantakan. Oppa…

Aku menunduk di samping tempat tidur oppa. Sudah jam setengah 4 pagi. Dan aku hanya tidur sekitar 2 jam saat menungu oppa pulang tadi. Setelah oppa pulang, aku tak bisa tidur. Aku memandang oppa yang sedang terlelap.

“Oppa, saat ini aku membutuhkanmu. Jika oppa seperti ini… aku merasa sendirian oppa. Kau tahu apa yang terjadi padaku? Aku sakit, oppa. beberapa jam yang lalu, aku mendengar sesuatu yang menyakitkan. Orang yang aku cintai, akan bertunangan dengan orang lain. Bertunangan. Apa aku harus mencoba melupakan perasaanku dan dia lagi? haruskah aku lakukan itu agar lukaku sembuh, oppa? Itu membuatku lebih sakit saat melihat oppa pulang dengan keadaan seperti ini. Bagaimana bisa aku membutuhkan oppa, yang sebenarnya oppa juga membutuhkan orang lain?”

Aku bodoh. Ya, aku tahu. Bahkan sekarang aku berbicara dengan orang yang sedang tidur. Orang yang jelas-jelas tak mungkin mendengarku berbicara saat ini. Tapi aku tak punya siapa pun lagi. Bagiku, aku hanya punya Siwon oppa. Eomma dan appa tidak mungkin harus ikut campur dalam urusan ini.

-_-_-

(Np : B1A4 – Only Learned Bad Things)

Aku mengerjapkan mataku sebentar. Aku tertidur di kamar oppa rupanya. Jam berapa sekarang? Setengah 7? Omo! Aku melihat oppa yang masih tidur. Biarlah, oppa pasti lelah. Lebih baik oppa tidak masuk kerja hari ini. Aku akan menelepon Taehee eonnie.

Ting… tong…

Baru saja aku akan masuk ke kamarku saat aku mendengar ada suara bel. Pagi-pagi begini ada tamu siapa? Jangan-janga… tidak. Tidak mungkin Kyuhyun ada ke sini sepagi ini. Aku segera membukakan pintu. Aku pun bernafas lega ketika melihat ternyata yang datang adalah Taehee eonnie dan… Taeyeon? Tak apa, yang jelas jangan Kyuhyun.

“Pagi eonnie.. pagi Taeyeon…” sapaku.

“Oh.. Pagi Yuri. Ah, Yuri. Kau kenapa? Kau terlihat…”

“Berantakan?” aku menyambung perkataan Taehee eonnie yang ditanggapinya oleh senyuman.

“Ya. Kau terlihat seperti itu pagi ini. Bahkan kau belum berpakaian seragam.” Sahut Taeyeon.

“Hehe… aku baru bangun.” Ucapku malu. “Oh, iya. Ada apa kalian datang pagi-pagi kemari? Ada yang bisa ku bantu?” tanyaku setelah mempersilahkan Taehee eonnie dan Taeyeon masuk.

“Sebenarnya tidak terlalu penting. Aku hanya ingin memastikan apa keadaan oppamu baik-baik saja? Kemarin dia pulang kerja sepertinya dengan keadaan yang kurang baik.” Jawab Taehee eonnie. Nadanya terdengar khawatir. Apa dia menyukai Siwon oppa?

“Sebenarnya…”

Aku pun menceritakan semuanya pada Taehee eonnie. Tentang oppa tentu saja. Kecuali tentang ceritaku. Itu akan aku simpan sementara. Ya, hanya sementara. Karena aku tak mungkin menyimpannya sendirian.

****

“Taehee-eon!” panggilku pada Taehee eonnie yang sedang di ruang tengah. Ia tersenyum padaku.

“Kau mau pergi?” tanyanya.

“Ne. Apa eonnie mau menemaniku bilang ke Siwon oppa?”

Ya, sejak tadi pagi hanya Taehee eonnie yang berani menemui oppa. aku masih takut bertemu oppa. entah apa yang ku takutkan. Yang jelas aku tak ingin menemui oppa sendiri. Apalagi sampai meminta ijin untuk pergi

“Ah, iya. Oppamu ada acara. Ia sudah pergi dari 30 menit yang lalu.”

“Mworago? Aish! Eotteohke eonnie-ah?”

“Biar aku hubungi oppamu untuk meminta ijin, ya.”

Aku mengangguk pelan. Aku memperhatikan Taehee-eon yang sedang menelepon oppa. terlihat ia sedang membujuk oppaku agar mengijinkan aku pergi.

“Eotteohke?”

“Oppa-mu mengijinkan. Asal kau pulang sebelum jam 10 malam. Itu saja.”

Aku tersenyum senang.

“Ayo sekalian ku antarkan. Aku juga mau pulang. Kasian, Taeyeon sendirian di rumah.”

“Ne, eonnie. Jeongmal gomawo. J”

****

(Np : J.Lim – It Can’t Be Real)

“Kyuhyun!” aku memanggil Kyuhyun yang sedang berdiri di depan pintu masuk. Ia tersenyum dan melambaikan tangan ke arahku. Aku pun segera menghampirinya.

“Kau cantik sekali malam ini, Yuri.” Kata Kyuhyun. Aku menunduk malu.

“Kau terlalu berlebihan, Kyu.” Balasku.

“Anniyo. Kau sungguh cantik malam ini, Yuri. Sudah, ayo masuk.”

Aku dan Kyuhyun masuk ke ruangan tempat pesta dilangsungkan. Namun sepertinya aku terlambat karena acaranya sudah dimulai. Kyuhyun pergi sebentar untuk mengambil minuman.

“Aku Seohyun. Di sini aku akan menyanyikan sebuah lagu, hadiah dariku untuk Gain eonnie dan Namgil oppa yang berbahagia hari ini.”

Aku mengalihkan pandanganku ke panggung saat mendengarnya. Seohyun? Dia mengenakan gaun putih dan rambutnya digerai. Dia terlihat cantik. Kyuhyun datang menghampiriku.

“Ini minumanmu.” Sambil menyerahkan segelas minuman padaku.

“Gomawo,  Kyu”

Lalu kami berdua diam. Kyuhyun memandang Seohyun yang sedang bernyanyi dengan anggun di atas panggung. Hhh…

“Dia terlihat cantik. Benarkan Yuri?” kata Kyuhyun padaku sambil tak mengalihkan pandangannya pada Seohyun sama sekali. Aku hanya bisa diam. Rasanya sakit. Sungguh.

“Sepertinya kurang lengkap jika aku menyanyi sendiri di sini. Bagaimana jika adik Gain eonnie yang menemaniku bernyanyi. Cho Kyuhyun, mau menemaniku bernyanyi di sini?” kata Seohyun sambil memandang ke arah Kyuhyun. Kyuhyun memandangku.

“Aku ke sana dulu ya.” Kata Kyuhyun lalu meninggalkanku.

Kyuhyun dan Seohyun bernyanyi bersama di panggung. Mereka bergandengan tangan. Ah… Seohyun yang cantik dan anggun dengan Kyuhyun yang terlihat lebih tampan malam ini. Mereka pasangan yang serasi. Seharusnya tadi aku tidak perlu datang ke pesta ini. Tidak ada gunanya aku di sini. Aku berbalik dan terkejut melihat apa yang mataku tangkap. Siwon oppa? Mengapa dia ada di sini? Bagaimana kalau dia tahu aku di sini? Jika oppa di sini pasti nanti oppa akan tahu kalau Kyu itu adalah Cho Kyuhyun. Orang yang oppa larang untuk ku cintai.

Aku meninggalkan ruangan dan pergi ke keluar. Hhh… aku tak mau kalau oppa sampai melihatku di sini.

“Yuri?”

Aku tercekat mendengar suara orang yang memanggilku. Aku berbalik ke belakang dengan perasaan deg-degan. Oh, God… ternyata oppa. Otteohke? Aku tersenyum pada Siwon oppa. tapi oppa malah menatapku tajam.

“Kenapa kau ada di sini?” tanyanya dingin. Aku harus bilang apa? Aku tak menjawab dan diam. Itu membuat oppa berpikir satu hal yang paling ku takutkan saat ini.

“Apa ini rumah teman yang kau maksud? Temanmu, Cho Kyuhyun.” Kata Siwon oppa. sorot matanya bilang dia menahan amarah saat ini. Lalu seorang wanita menghampiriku dan oppa.

“Siwon-ssi? kau datang?” tanya wanita itu. Ah, sepertinya aku pernah melihatnya. Di mana? Mmm… bukannya dia Noona-nya Kyu?

“Cho Gain. Selamat atas pernikahanmu.” Ucap oppa dingin.

“Siwon-ssi?”

“Selamat. Kau juga sukses menghancurkan hatiku unuk yang kedua kalinya.”

Omo?! Apa maksudnya? Apa oppa pernah ada hubungan dengan Gain-eonnie yang notabene-nya adalah noonanya Kyuhyun?

“Mianhata.”

“Maaf katamu?! Kau pikir hanya dengan kata maaf itu bisa menyembuhkan lukaku begitu?”

“Siwon oppa, sudahlah.”

Aku akhirnya buka suara. Aku tak ingin oppa marah-marah di sini. Apa lagi pesta masih berlangsung. Jika diteruskan bisa gawat ini. Aku memegang lengan oppa bermaksud mengajaknya pergi. Namun aku tak tahu jika itu mendapat respon yang kurang mengenakkan dari Gain eonnie.

“Kau? Kwon Yuri ‘kan? Temannya adikku Kyuhyun?” kata Gain eonnie. Aku memandangnya takut-takut. Nada bicaranya sinis padaku.

“Ne, eonnie. Jeosonghamnida. Kami sebaiknya pulang dulu.” Pamitku dan menarik oppa agar menjauh dan segera pergi. Baru beberapa langkah aku sudah mendengar Gain eonnie berbicara lagi.

“Tak aku sangka kau seperti ini, Yuri-ssi.”

Oppa berbalik menatap tajam pada Gain eonnie. Tapi rupanya Gain eonnie sedang menatapku. Ah… apalagi ini?!

“kemarin baru saja aku melihat kau dekat dengan adikku, Kyuhyun. Lalu sekarang kau sudah beralih pada namja lain? Sulit dipercaya!!”

Aku hanya diam. Tak tahu harus menjawab apa. Aku memandang oppa. rahangnya mengeras. Aku tahu oppa pasti sedang menahan amarahnya sekarang. Matanya tak berkedip sama sekali menatap Gain eonnie.

“Aku tak salah kan jika tidak menyetujui hubunganmu dengan Kyuhyun. Seohyun jauh lebi baik darimu! Sikapmu ini menunjukkan kau seperti yeoja murahan! Mudah beralih ke namja lain…”

“Tutup mulutmu!!” seru Siwon oppa tiba-tiba.

Aku diam. Aku mengeratkan pegangan pada lengan oppa. Menahan oppa yang sepertinya sudah dibatas kesabarannya.

“Siwon-ssi, kenapa kau malah membelanya? Oh~ apa ini yeoja barumu huh?” sahut Gain eonnie.

“Yuri itu adalah…”

“Apa? Mau menyangkalnya? Atau malah mau bilang dia itu calon istrimu begitu?!”

“Dia adikku!! Kau tahu?!!” Siwon oppa menegaskan kata-katanya. Tapi terlihat ia sangat marah.

“Apa?”

“Ayo Yuri, kita pergi! Kajja!”

Oppa menarikku pergi menjauh dari Gain eonnie. Tarikan oppa kuat sekali sampai pergelangan tanganku sakit. Saat melewati ruang pesta, tak sengaja kami menabrak Kyuhyun. Oppa berhenti.

“Yuri? Siwon hyung? Kalian mau kemana? Acaranya kan belum selesai.” Kata Kyuhyun yang di sampingnya ada Seohyun yang merangkul lengan Kyu. Aku memandang itu menjadi sesak. Oppa melepaskan tangannya dariku lalu berjalan dulu keluar. Aku memandang Kyuhyun dan Seohyun bergantian.

“Mian. Aku dan oppa pulang dulu. Tolong sampaikan pada Gain eonnie, terimakasih untuk malam ini.” Kataku. Aku ingin pergi tapi Kyu memegang tanganku.

“Apa maksudmu Yuri? Apa terjadi sesuatu antara kalian?” tanyanya. Aku menghela nafas pelan.

“Tanyakan saja pada Noona-mu.” Jawabku. Aku ingin pergi tapi Kyu masih memegang tanganku bahkan lebih erat.

“Ada apa ini? Yuri…” aku melepaskan dengan kasar tangan Kyuhyun.

“Mianhae, Kyu. Aku harus pergi.” Kataku sambil menyusul oppa yang sudah lebih dulu.

“Yuri!!”

Aku berlari menyusul oppa tanpa menghiraukan Kyu yang memanggilku di belakang sama sekali. Mianhae, Kyu…

****

Keesokan harinya…

Knock! knock! Knock!

Aku mengetuk pintu kamar Siwon oppa tapi oppa tak menyahut sama sekali. “Siwon oppa!” panggilku. Tapi oppa masih diam. Hahhh… sejak tadi malam Siwon oppa tidak bicara apapun lagi padaku. Padahal aku sempat mengira sampai rumah oppa akan memarahiku habis-habisan tentang Kyu atau apalah itu. Tapi ternyata tidak. Setelah sampai rumah, oppa langsung masuk ke kamarnya tanpa mengucapkan satu patah kata pun padaku. Bahkan ia tak keluar kamar lagi. Aku jadi khawatir.

“Oppa… keluarlah. Atau paling tidak buka pintunya untukku. Oppa…”

Aku memanggil oppa lagi tapi masih sama. Tak ada jawaban. Ahh.. lebih baik aku melihatmu marah oppa. Daripada harus melihat kau diam seperti ini.

Ting! Tong!

Hah… siapa lagi yang datang siang-siang begini. Aku harap itu Taehee eonnie. Aku segera membukakan pintu dan ya! Harapanku terwujud. Yang datang adalah Taehee eonnie.

“Eonnie-ah!”

“Wae? Ada apa, Yuri? Oppamu baik-baik saja kan?”

Aku menunduk.

“Dari tadi malam, sepulang dari pesta itu, Oppa tidak keluar kamar, eonnie. Pintunya dikunci dari dalam. Aku tak punya kunci cadangannya. Oppa juga belum makan. Aku takut nanti oppa sakit.”

Taehee eonnie diam. Mungkin ia berpikir. Kami sekarang ada di ruang makan. Hah… aneh memang mengobrol di tempat ini. Tapi aku bisa merasa lebih santai jika di sini.

“Siwon-ssi mungkin butuh waktu untuk sendiri saat ini. Lebih baik, kita biarkan oppamu sendiri dulu.”

“Tapi eonnie… apa ini ada hubungannya dengan… Gain eonnie? Noonanya Kyuhyun? Kalian kan seharusnya saling mengenal bukan?”

“Jamkanman! Apa yang kau maksud tadi itu Cho Gain? Benarkah dia noona-nya Kyuhyun? Namja yang kau cintai itu?”

“Mmmm.. ne. Eonnie tahu sesuatu kan antara oppa dan Ga..”

“Kau sudah makan, Yuri? Kau terlihat pucat.”

“jinca? Aku memang belum makan dari tadi pagi. Juga 2 hari ini aku kurang tidur. Jadi seperti ini.”

“Bagaimana kalau aku memasakkan sesuatu makanan untukmu? Ini sudah jam makan siang, sekalian kita makan siang.”

“Ne.”

“Kau mau membantuku kan?”

“Ne, eonnie. Dengan senang hati.”

Hhh… biar saja untuk sesaat aku melupakan masalah ini. Huh… perutku juga sudah lapar. Apa oppa tidak lapar? Biarlah. Taehee eonnie benar. Oppa butuh waktu untuk sendiri. Yah… meskipun sebenarnya aku sangat penasaran ada hubungan apa Siwon oppa dengan Gain eonnie.

 

To Be Continued…

 

Preview part 10

“Oppa!”

PYARRR!!!

Aku menatap oppa dengan tatapan tidak percaya. Bagaimana bisa?

“JANGAN BERHUBUNGAN dengan CHO KYUHYUN lagi!! ARASSEO!!!”

“Yuri, bisa aku bicara denganmu? Sebentar saja. Please…”

“Tapi, Kyu…”

“Please…”

End Preview

 

Annyeoooonggg!!!

Mianhae, author telat ngepostingnya. Moga nggak mengecewakan ya… ini belum sepenuhnya author edit. Jadi kalo ada kata yg salah dalam pengetikan, mohon dimaklumi.

Ok…

Keep RCL!!! Gomapseumnida yeorobeun!!!

Diproteksi: I Love You All [part 8]

•Desember 19, 2011 • Masukkan kata sandi Anda untuk melihat komentar.

Tulisan ini dilindungi kata sandi. Untuk melihatnya mohon masukkan sandi Anda di bawah ini:

Jung Yong Hwa – I Miss You

•Oktober 19, 2011 • Tinggalkan sebuah Komentar

늘 똑같은 하늘에
neul ttokgateun haneure
늘 같은 하루
neul gateun haru
그대가 없는것말고는
geudega omneun-gotmalgoneun
달라진게 없는데
dallajin-ge omneunde

난 보낸줄 알았죠
nan bonenjur-aratjyo
다 남김없이
da namgim-obsi
아니죠 아니죠 난 아직
anijyo anijyo nan ajik
그대를 못보냈죠
geudereul motbonetjyo그리워 그리워서
geuriwo geuriwoso
그대가 그리워서
geudega geuriwoso
내일 난 혼자서만
neil nan honjasoman
그대를 부르고 불러봐요
geudereul bureugo bullobwayo

보고파 보고파서
bogopa bogopaso
그대가 보고파서
geudega bogopaso
이제 난 습관처럼
ije nan seupgwanchorom
그대 이름만 부르네요
geude ireumman bureuneyo
오늘도
oneuldo

하루하루가 죽을 것만 같은데
haruharuga jugeul gotman gateunde
어떻게 해야해요
ottoke heyaheyo

사랑해 사랑해요
saranghe sarangheyo
그대를 사랑해요
geudereul sarangheyo
말조차 못하고서
maljocha mot-hagoso
그대를 그렇게 보냈네요
geudereul geuroke bonenneyo

미안해 미안해요
mianhe mianheyo
내 말이 들리나요
ne mari deullinayo
뒤늦은 내 고백을
dwineujeun ne gobegeul
그댄 들을 수 있을까요
geuden deureul su isseulkkayo
사랑해요
sarangheyo

Credit
Hangul :: Melon Music
Romanization :: Chichan-Onew
WANNA SHARE THIS OUT OF THE BLOG?
DON’T 4GET TO TAKE OUT WITH FULL CREDITS
Thank u so much :)

Di bawah langit yang selalu sama persis

Di hari yang selalu sama persis

Kemudian lain kau tidak berada di sini

Semua tidak ada yang berbeda

Aku hanya ingin tersenyum, aku ingin melupakan segalanya

Hanya benar-benar tidak ada yang terjadi

Tersenyum untuk hidup di hari-hariku

Merindukanmu, aku sangat merindukanmu

Karena aku sangat merindukanmu

Setiap hari dalam diriku, memanggil dan memanggilmu

 

Ingin melihatmu, sangat ingin melihatmu

Karena aku sangat ingin melihatmu

Sekarang seperti aku memiliki kebiasaan ini

Tetap memanggil namamu

Seperti hari ini

Setiap hari, setiap hari, aku merasa seperti ingin mati,

Apa yang harus ku lakukan?

Mencintaimu, mencintaimu, aku mencintaimu

Aku bahkan tidak bicara kata-kata itu

Aku hanya melepaskanmu

 

Maaf, maaf, apakah kau mendengar kata-kataku?

Pengakuanku yang terlambat, bisakah kau mendengarku?

Aku mencintaimu

Diproteksi: I Love You All [part 7]

•Oktober 13, 2011 • Masukkan kata sandi Anda untuk melihat komentar.

Tulisan ini dilindungi kata sandi. Untuk melihatnya mohon masukkan sandi Anda di bawah ini:

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.